The Story

Awal mulanya...

…kami membuat SociaBuzz untuk menyelesaikan masalah sendiri.

Istilahnya “Scratching our own itch”.

Sebagai digital marketing manager di sebuah perusahaan FMCG, saya rutin melakukan influencer marketing untuk berbagai brand yang ada di perusahaan tersebut.

Merupakan suatu hal yang cukup menghabiskan banyak waktu dan tenaga, karena saya dan tim harus menghubungi setiap influencer satu per satu, meminta informasi harga, menyampaikan brief, membuat kontrak, meminta invoice, koordinasi dengan divisi keuangan untuk melakukan pembayaran ke masing-masing influencer, mengingatkan jadwal posting, membuat laporan hasil campaign, dan lain sebagainya.

Suatu hari saya mendapatkan sebuah ide untuk memecahkan masalah tersebut.

Untuk membuat sebuah website yang dapat mengotomatisasikan berbagai hal agar bisa lebih efisien dan produktif. 

Lalu saya menghubungi teman saya Eddy, pemilik digital agency yang juga mitra kerja saya di beberapa project di perusahaan tempat saya bekerja tersebut, dan mengajaknya ngopi bareng. 

Saya menyampaikan idenya dan meminta bantuan untuk merealisasikannya. 

Ternyata Eddy juga mengalami keribetan yang sama dalam menjalankan influencer marketing untuk klien-kliennya. 

Apalagi sebagai agency tidak jarang mendapatkan brief yang serba dadakan, terkadang H-1. 

Untuk mempersiapkan sebuah campaign influencer marketing butuh waktu yang tidak singkat. 

Bayangkan jika harus mempersiapkannya dalam 1 hari saja. 

Lalu kami sepakat untuk membangun SociaBuzz bersama-sama. 

Untuk menyelesaikan masalah kami sendiri. 

Pada April 2012, SociaBuzz versi pertama lahir.

Influencer Marketplace

Di SociaBuzz versi pertama, kami mengotomatisasikan proses kerjasama dengan Twitter influencers. 

Ya hanya Twitter, karena memang 2012-2014 masih eranya Twitter. 

Jadi, influencer yang paling banyak dimanfaatkan oleh brand untuk pemasaran saat itu adalah Twitter influencers. 

Cara kerja SociaBuzz sangat simple. 

Pilih influencer yang cocok, tentukan jadwal tweet, tulis caption, selesai. 

Influencer tersebut akan menerima notifikasi, dan jika dia menyetujuinya, tweet akan terjadwalkan dan otomatis diposting sesuai schedule dan caption yang telah ditentukan. 

Cukup melakukan pembayaran di website SociaBuzz untuk menjalankan kerjasama dengan banyak influencers, tanpa perlu bayar manual satu per satu. 

Jadi banyak hal-hal yang tadinya harus dikerjakan secara manual sudah tidak perlu dilakukan lagi karena sudah diotomatisasi. 

Sepanjang 2012-2014 belum ada pengembangan produk secara signifikan yang kami lakukan, karena saya (Rade) dan Eddy sibuk dengan pekerjaan masing-masing. 

Karena SociaBuzz awalnya memang hanya untuk menyelesaikan masalah kami sendiri saja. 

Namun seiring berjalannya waktu, kami lihat mulai banyak orang yang mendaftar di SociaBuzz, untuk mencari influencer, dan juga untuk menjadi influencer. 

Setelah melihat bahwa SociaBuzz punya potensi untuk menjadi solusi bagi banyak pihak, pada awal 2015 kami putuskan untuk fokus, mulai bentuk perusahaan, dan mulai bentuk tim untuk mengembangkan SociaBuzz. 

Melihat banyaknya permintaan pengguna dan tren yang ada, kami mulai hadirkan juga influencer dari platform media sosial lainnya, seperti Instagram, YouTube dan Blog. 

Jadi yang tadinya hanya “Twitter Influencer Marketplace”, berubah menjadi “Influencer Marketplace”.

Creator & Talent Marketplace

Seiring berjalannya waktu, kami mendapatkan banyak insight. 

Kami sadar bahwa influencer tidak hanya berprofesi sebagai influencer saja. 

Banyak dari mereka yang memiliki berbagai skill, talent, profesi yang berbeda-beda. 

Ada yang profesinya fotografer, model, makeup artist, penulis, penyanyi, MC, dll. 

Lalu kami berpikir, bagaimana supaya bisa membantu mereka mendapatkan job-job yang relevan dengan profesi mereka, selain job-job endorsement. 

Bagaimana kami bisa memberikan lebih banyak klien untuk mereka. 

Di sisi lain, kami juga melihat bahwa untuk mencari berbagai talent dan jasa kreatif, masih belum semudah membeli produk di ecommerce atau memesan makanan di GoFood. 

Umumnya orang masih harus mencari-cari di Instagram atau Google, lalu menghubungi satu per satu, menanyakan harga dan kesediaan jadwal, membandingkan pilihan, dan lain sebagainya. 

“Bisa gak sih ada satu tempat dimana kita bisa lihat berbagai talent dan jasa kreatif yang kita butuhkan, cek harga dan portfolionya, lalu tinggal booking, bayar, selesai?” 

Di era semuanya serba on-demand, kami merasa masyarakat membutuhkan solusi yang lebih cepat dan mudah. 

Oleh karena itu di awal 2019, SociaBuzz transformasi menjadi “Creator & Talent Marketplace”. 

Selain influencer, kami mulai hadirkan berbagai talent dan jasa kreatif seperti: fotografer, videografer, penulis, makeup artist, model, MC, pembicara, musisi, dll. 

Dengan adanya transformasi tersebut, kami bisa memberikan nilai yang lebih besar ke para pengguna SociaBuzz. 

Bagi talent yang bergabung, mereka bisa menjual berbagai skill dan talent yang mereka miliki dalam satu tempat. 

Bagi pihak klien (yang membutuhkan jasa), mereka bisa mencari berbagai talent dan jasa kreatif di satu tempat dengan mudah, cepat dan aman.

Platform for The Passion Economy

Pengembangan produk terus kami lakukan agar dapat memberikan sebanyak mungkin manfaat bagi para pengguna SociaBuzz dan terus merealisasikan misi kami yaitu:

“To empower talent & creativity for a better life.”

Di tahun 2020 kami hadirkan fitur-fitur baru untuk membantu lebih banyak orang menghasilkan lebih dari passion dan kreativitasnya.

  • SociaBuzz Tribe, untuk permudah siapapun terima dukungan dari audience & komunitasnya.
  • SociaBuzz Shop, untuk permudah siapapun jualan produk digital.
  • SociaBuzz Affiliate, untuk permudah siapapun menghasilkan uang dengan cara mempromosikan produk orang lain.

It’s still day one for us.

We’ll keep on building.

Keep on improving.

To serve YOU better.

Regards,

Rade, Eddy & SociaBuzz team