Relasi Si Tukang Kopi Dan Pengunjung
02 Feb 2022


 Pengusir berpakaian lorens datang menghampiri komplotan di tepi jalan dekat lapangan Ilago. Ditempat itu beraneka ras saling berbagi pengalaman hidup,sambil berolaraga. Tanpa sengaja ku lirik sepasang roda saling berkejaran menuju arah ku.

Saya. “ good day merah a.a.”( a.a adalah sebutan halus untuk orang sunda yang lebih dewasa dari kita”

Si tukang kopi “ ia pace”

“Good day merah dan ia pace” merupakan percakapan awal kami. Saya sebagai pembeli, Si tukang kopi sebagai penjual, sedangkan kopi sebagai “relasi”.

Kopi kumpulkan kami sehingga terjadi komunikasi lawan arah, atau tanya jawab (sharing together).

Si tukang kopi bilang “ pendoman hidup ku berteman dengan orang yang lebih dewas adari ku . Bagimana situ ?”.

Saya “ harus jawab a.a.?” lanjut dia...”biar tidak (sawang sinawang)” saat ia jelaskan istila sawang sinawang, datanglah petugas berlorens, memberi waktu kurang lebih 15 menit, untuk tidak berjuala di tempat kami sedang diskusi.

Sebelum pergi, ia tanya pada ku, “agaimana pandangan mu tentang situasi ini? “

Kata-ku, “ pemerintah mengusir mu melalui sekuriti tapi tiap hati bukan mereka yang kasi makan”.

Lalu tangapanya, harus salaing menghargai dan berpikir maju! Sekuriti mengusir pedangang karena melakukan tugas, pedagang turuti karena ada hari besok bisa datang jualan lagi. Kareana jika padaakhirnya saling ngotot, maka resikonya bisa saja, sekuriti dipecat dari perusahan,dan pedangang tidak dapat kesempatan untuk bawa datang jualan lagi.

Sampai jumpa.....